Jumat, Januari 21, 2011

SYARIF HIDAYATULLAH (SUNAN GUNUNG JATI) DAN FATAHILLAH part.1

Dalam buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Carbon pada tahun 1720 yang disadur dari buku Negara Kertabhumi dikisahkan tentang silsilah keturunan Syarif Hidayatullah sebagai berikut:
Prabu Siliwangi raja di Pakuan Pajajaran dari perkawinannya dengan Nhay Suabang Larang mempunyai 3 orang anak : Raden Walangsungsang, Nhay Lara Santang, dan Raden Jaka Sangara. Nhay Lara Santang yang kemudian memeluk agama ibunya yaitu agama Islam, pergi ke Mekkah bersama Raden Walangsungsang untuk menunaikan ibadah haji sambil menuntut ilmu agama disana. Mereka berguru kepada Syekh Abdul Jadid yang kemudian Nhay Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah seorang raja di Mesir.
Dari pernikahan ini lahirlah Syarif Hidayat dan Syarif Nurullah yang lahir dua tahun kemudian. Setelah Syarif Hidayat berumur 20 tahun, dia pergi ke Mekkah untuk belajar ilmu agama kepada Syekh Tajmuddin Al-Kubri selama dua tahun dan kepada Syekh Athaullahi Sajali selama dua tahun pula. Syarif Hidayat tidak mau menggantikan ayahnya yang telah wafat untuk menjadi raja di Mesir tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada adiknya Syarif Nurullah. Beliau sendiri pergi ke Pulau Jawa untuk menyiarkan agama Islam.
Daerah pertama yang dikunjunginya adalah Pasai, dan tahun kemudian singgah di bandar Banten. Disana didapati sudah banyak penduduk yang beragama Islam hasil usaha Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang juga masih terhitung keluarga. Dari Banten barulah Syarif Hidayat pergi ke Jawa Timur yakni ke Ngampel. Oleh Sunan Ampel, Syarif Hidayat ditetapkan sebagai da'i di Pesambangan (Sembung) bersama uwaknya Haji Abdullah Iman nama lain dari Raden Walangsungsang. Beliau membuat pondok di Bukit Sembung Gunung Jati, sehingga dikenal dengan nama Maulana Jati atau Syekh Jati.
Istri dan anak Syarif Hidayat(ullah) adalah sebagai berikut :
1. Nhay Babadan putri dari Ki Gedheng Babadan. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena Nhay Babadan meninggal dunia tanpa dikaruniai anak.
2. Nhay Lara Bagdad atau Syarifah Bagdad, adik dari Maulana Abdurrahman Bagdadi atau Pangeran Panjunan. Dari pernikahan ini dikaruniai dua orang anak : Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana. Pangeran Jayakelana kemudian menikah dengan Ratu Pembayun putri Raden Fattah Raja Demak pertama. Pangeran Jayakelana meninggal dunia pada usia muda dan Ratu Pembayun pun kemudian menikah dengan Fatahillah atau Fadhilah Khan seorang pemuda asal Pasai. Sedangkan Pangeran Bratakelana menikah dengan Ratu Nyawa adik dari Sultan Trenggono Raja Demak. Dalam perjalanannya menuju Cirebon, Pangeran Bratakelana gugur dalam pertempuran dengan bajak laut dan karenanya beliau disebut dengan nama Pangeran Sedang Lautan atau Pangeran Gung Anom.
3. Nhay Tepasari, putri dari Ki Ghedeng Tepasan dari Majapahit. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai dua orang anak : Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Mahmud Arifin yang kemudian disebut Pangeran Pasarean. Nhay Ratu Ayu menikah dengan Pangeran Mohammad Yunus atau Pangeran Sabrang Lor putra tertua dari Raden Fattah. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak karena Pangeran Mohammad Yunus mati muda. Dia sempat memerintah Demak selama tiga tahun saja. Kemudian Nhay Ratu Ayu menikah lagi dengan Fatahillah, dan dikaruniai dua orang anak : Ratu Wanawati Raras dan Pangerang Sedang Garuda. Sedangkan Pangeran Mahmud Arifin atau Pangeran Pasarean menikah dengan Ratu Nyawa, janda dari Pangeran Bratakelana. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 6 orang anak :
a. Pangeran Kesatrian yang kemudian menikah dengan seorang putri asal Tuban.
b. Pangeran Losari yang menjadi Panembahan Losari.
c. Pangeran Suwarga yang kemudian menjadi Adipati di Cirebon dengan gelar Pangeran Adipati Pakungja atau Pangerang Sedang Kemuning. Pangeran ini kemudian menikah dengan Ratu Wanawati Raras putri Raden Fatahillah dengan Nhay Ratu Ayu.
d. Ratu Emas yg menikah dengan Tubagus Banten di Banten.
e. Pangeran yang berkeluarga di Panjunan
f. Pangeran Weruju.
4. Nhay Kawunganten adik Bupati Banten. Dari pernikahan ini lahir dua orang anak : Ratu Winahon atau Putri Wulung Ayu.(Roesjan,1954:10) dan Pangeran Hasanuddin atau Pangeran Seba Kingking. Ratu Winahon kemudian menikah dengan Pangeran Atas Angin atau Pangeran Raja Laut yg kemungkinan nama lain dari Sunan Kalijaga.(Purwaka:31).
5. Pada tahun 1478, Syarif Hidayat menikah dengan Nhay Pakungwati putri Raden Walangsungsang dengan Nhay Indhang Geulis. Karena tidak dikaruniai anak, Nhay Pakungwati mengangkat Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Pasarean menjadi anak angkatnya karena Nhay Tepasari meninggal sewaktu mereka masih kecil.
6. Pada tahun 1481, beliau menikah dengan Putri Ong Tien seorang putri dari raja Cina sewaktu putri tersebut datang ke Pulau Jawa dengan rombongan yang besar. Dengan Putri Ong Tien ini, beliau dikaruniai seorang putra, akan tetapi meninggal pada saat dilahirkan. Empat tahun kemudian Putri Ong Tien pun wafat.
Di Cirebon Syarif Hidayat diangkat menjadi Tumenggung yang menguasai daerah Cirebon dan sekitarnya menggantikan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabhumi. Tugasnya di Banten menyebarkan agama Islam diserahkan kepada anaknya Pangeran Hasanuddin.
Sejak Cirebon dikuasakan kepada Syarif Hidayatullah, Cirebon tidak pernah lagi mengirim "kuwerabhakti" atau upeti kepada Raja Pakwan Pajajaran. Hal ini menyebabkan Raja Pajajaran mengirim 60 orang prajurit dipimpin oleh Tumenggung Jagabaya untuk menagih upeti tersebut. Tapi akhirnya semua prajurit tersebut tidak berani memerangi Cirebon.

Part.2 >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar